Mengenang terbitnya keputusan pemerintah tentang sertifikasi guru.
Delapan tahun yang lalu saya pernah berujar :
Kembalikan Guruku Ke Sekolah
Redaksi SK Priangan Yth, ( ini surat terbuka buat bupati dan Wali Kota Tasikmalaya)
Dalam rangka menyongsong otonomi daerah pemerintahan Kab dan Kota Tasikmalaya. Semestinya kita merenung sejenak mengenang perjalanan dunia pendidikan kita. Pemerintah, masyarakat, para pendidik serta orang tua siswa masing-masing harus introspeksi dan sedikit mutar ingatan atau belajar pada masa lalu.
Saya begitu hormat dengan sosok guru yang tidak punya embel-embel gelar, saya begitu hafal kapan bapak guru agama, guru matematika, dan seterusnya memberikan pelajarannya dan kami akan selalu menunggu hari pelajarannya. Bp Jumhadi begitu menguasai pelajaran yang akan diberikan dan begitu perhatian pada siswa yang tidak masuk sekolah pada pelajarannya. Saya terkenang sosok guru ini karena penguasaan materi dan kepintarannya menggunakan media pembantu pelajaran pada mata pelajaran yang diberikan 30 tahun yang lalu. Bp Nirwan yang memegang tugas GC ( kalau sekarang BP ) selalu menyempatkan dirinya pada malam-malam belajar mengontrol ke pusat-pusat hiburan ( bioskop ) kalau-kalau ada saiswa yang menonton tontonan yang bukan semestinya. Kalau ada yang ketahuan, besoknya dipanggil dan diberikan bimbingan dan pengarahan dengan lemah lembut kebapaan. Pada waktu itu siswa merasa malu sendiri, dan Pa Nirwan dengan tidak bosan-bosan terus ngontrol hal serupa. Guru Guru yang memberi pelajaran pada waktu itu selalu pulang lebih akhir setelah siswa pulang, itu terjadi ketika saya sekolah ditingkat menengah atas.
Bapak Nirwan pernah datang kerumah teman yang kebetulan ayahnya pejabat militer, Pak Nirwan menghukum anak pejabat tersebut dengan menyuruh berdiri didepan kelas dari jam pertama sampai jam ketiga ( kira-kira 1 jam ) Pak Nirwan dengan tenang menyampaikan permohonan maaf karena telah menghukum siswanya itu. Ayah teman saya yang berpengaruh dikota itu langsung menyalami Pak Nirwan dan mengucapkan terimakasih karena telah sungguh-sungguh mendidik anaknya yang telah melanggar aturan sekolah.
Kalau kita telaah ilustrasi di atas adalah kejadian yang bisa kita rasakan 30 tahun yang lalu, memang sudah cukup lama namun ada beberapa hal yang perlu dicermati yaitu :
Satu, adanya kesiapan yang betul-betul dari sosok pendidik untuk memberikan pelajaran dan pendidikan terhadap siswanya. Dia betul betul konsentrasi pada materi pelajaran yang akan diberikan pada siswanya, tidak hanya sekedar persiapan administrasi guru yang setumpuk, akan tetapi roh dan jiwa raganya berada bersatu diruang kelas.
Dua, adanya keseimbangan penghargaan yang diberikan pemerintah langsung atau tidak langsung bagi setiap profesi yang ada. Dulu tidak tercipta situasi yang melahirkan swasangka negatif sehingga profesi tertentu menjadi kejaran sedangkan profesi yang lainnya tidak diminati, sehingga ( guru ) adalah profesi yang tidak diminati karena kurang menjajikan, lebih parah lagi dijadikan pelarian atau sebagai batu loncatan.
Tiga, Sekarang tidak samanya pola didik antara sekolah, masyarakat, dan orang tua siswa menjadikan tugas guru menjadi lebih berat dan tentu perhatian Bapak dan Ibu guru terhadap anak didiknya harus "super". Apa mungkin ... waktu sekarang Bapak dan Ibu Guru ini adalah yang bisa mengantar siswa atau anak didiknya mempersiapkan kedewasaan untuk mengisi dunia yang semakin ketat dalam berkompetisi ( Ilmu pengetahuan, kompetensi, dan kejujurannya ) ?.
Selayaknya Pemerintah Kabupaten/Kota dalam menyongsong otonomi daerah memperhatikan dunia pendidikan ( guru ).
Sarana prasarana, wawasan dan tingkat kesarjanaan, seminar, loka karya dan penataran guru itu semua memang penting tetapi yang lebih penting bagaimana supaya Bpk dan Ibu guru kembali kesekolah dengan jiwa dan rohnya yang bersatu berada diruang kelas dan dikeceriaan anak didiknya.
Aten Warus
Aksa jaya Blok D No 76 Tasikmalaya
Surat terbuka ini pernah dimuat di SK Priangan Sabtu-Selasa ( 19-22 Januari 2002 )
Delapan tahun yang lalu saya pernah berujar :
Kembalikan Guruku Ke Sekolah
Redaksi SK Priangan Yth, ( ini surat terbuka buat bupati dan Wali Kota Tasikmalaya)
Dalam rangka menyongsong otonomi daerah pemerintahan Kab dan Kota Tasikmalaya. Semestinya kita merenung sejenak mengenang perjalanan dunia pendidikan kita. Pemerintah, masyarakat, para pendidik serta orang tua siswa masing-masing harus introspeksi dan sedikit mutar ingatan atau belajar pada masa lalu.
Saya begitu hormat dengan sosok guru yang tidak punya embel-embel gelar, saya begitu hafal kapan bapak guru agama, guru matematika, dan seterusnya memberikan pelajarannya dan kami akan selalu menunggu hari pelajarannya. Bp Jumhadi begitu menguasai pelajaran yang akan diberikan dan begitu perhatian pada siswa yang tidak masuk sekolah pada pelajarannya. Saya terkenang sosok guru ini karena penguasaan materi dan kepintarannya menggunakan media pembantu pelajaran pada mata pelajaran yang diberikan 30 tahun yang lalu. Bp Nirwan yang memegang tugas GC ( kalau sekarang BP ) selalu menyempatkan dirinya pada malam-malam belajar mengontrol ke pusat-pusat hiburan ( bioskop ) kalau-kalau ada saiswa yang menonton tontonan yang bukan semestinya. Kalau ada yang ketahuan, besoknya dipanggil dan diberikan bimbingan dan pengarahan dengan lemah lembut kebapaan. Pada waktu itu siswa merasa malu sendiri, dan Pa Nirwan dengan tidak bosan-bosan terus ngontrol hal serupa. Guru Guru yang memberi pelajaran pada waktu itu selalu pulang lebih akhir setelah siswa pulang, itu terjadi ketika saya sekolah ditingkat menengah atas.
Bapak Nirwan pernah datang kerumah teman yang kebetulan ayahnya pejabat militer, Pak Nirwan menghukum anak pejabat tersebut dengan menyuruh berdiri didepan kelas dari jam pertama sampai jam ketiga ( kira-kira 1 jam ) Pak Nirwan dengan tenang menyampaikan permohonan maaf karena telah menghukum siswanya itu. Ayah teman saya yang berpengaruh dikota itu langsung menyalami Pak Nirwan dan mengucapkan terimakasih karena telah sungguh-sungguh mendidik anaknya yang telah melanggar aturan sekolah.
Kalau kita telaah ilustrasi di atas adalah kejadian yang bisa kita rasakan 30 tahun yang lalu, memang sudah cukup lama namun ada beberapa hal yang perlu dicermati yaitu :
Satu, adanya kesiapan yang betul-betul dari sosok pendidik untuk memberikan pelajaran dan pendidikan terhadap siswanya. Dia betul betul konsentrasi pada materi pelajaran yang akan diberikan pada siswanya, tidak hanya sekedar persiapan administrasi guru yang setumpuk, akan tetapi roh dan jiwa raganya berada bersatu diruang kelas.
Dua, adanya keseimbangan penghargaan yang diberikan pemerintah langsung atau tidak langsung bagi setiap profesi yang ada. Dulu tidak tercipta situasi yang melahirkan swasangka negatif sehingga profesi tertentu menjadi kejaran sedangkan profesi yang lainnya tidak diminati, sehingga ( guru ) adalah profesi yang tidak diminati karena kurang menjajikan, lebih parah lagi dijadikan pelarian atau sebagai batu loncatan.
Tiga, Sekarang tidak samanya pola didik antara sekolah, masyarakat, dan orang tua siswa menjadikan tugas guru menjadi lebih berat dan tentu perhatian Bapak dan Ibu guru terhadap anak didiknya harus "super". Apa mungkin ... waktu sekarang Bapak dan Ibu Guru ini adalah yang bisa mengantar siswa atau anak didiknya mempersiapkan kedewasaan untuk mengisi dunia yang semakin ketat dalam berkompetisi ( Ilmu pengetahuan, kompetensi, dan kejujurannya ) ?.
Selayaknya Pemerintah Kabupaten/Kota dalam menyongsong otonomi daerah memperhatikan dunia pendidikan ( guru ).
Sarana prasarana, wawasan dan tingkat kesarjanaan, seminar, loka karya dan penataran guru itu semua memang penting tetapi yang lebih penting bagaimana supaya Bpk dan Ibu guru kembali kesekolah dengan jiwa dan rohnya yang bersatu berada diruang kelas dan dikeceriaan anak didiknya.
Aten Warus
Aksa jaya Blok D No 76 Tasikmalaya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar