Jumat, 09 April 2010

Kerajaann Penuh Kesatria

Masa Depan Tasikmalaya Sebagai Kota Pelajar dan Terpelajar.

DALAM menyongsong otonomi daerah, baik Kabupaten maupun Kota Tasikmalaya harus sudah mempunyai jurus (program) lewat satria-satrianya yang ada dikerajaan (eksekutif) ataupun begawan-begawan sakti yang ada dipertapaan (legislatif). Bagaimana supaya rakyatnya sejahtera sehat jasmani maupun rokhani tidak kurang sandang, pangan dan papan, para kesatria dan begawan harus saling menyatukan kekuatan untuk menangkal segala bancang pakewuh (keributan) dengan arif dan bijaksana mengayomi para kurawa (pegawai) dan rakyatnya. Kerajaan (Kabupaten/Kota) Tasikmalaya harus menjadi kerajaan yang lebih baik daripada yang lain sebab disini tersimpan dan tersebar begitu banyak putik bunga sakti (perguruan tinggi) dan putik bunga abadi (pesantren), Putik bunga sakti adalah penguat jasad yang mampu membangkitkan penglihatan seseorang kemasa depan (wawasan keilmuan). Dengan kekuatan penglihatannya itu ia mampu membawa dirinya atau orang lain dari kegelapan (kebodohan) menuju pencerahan (kemakmuran). Sedangkan putik bunga abadi (pesantren) merupakan kekuatan hati yang mampu menggetarkan puncak gunung (cita-cita) yang mampu mengendalikan kerbau liar (nafsu) dan menjaga patukan ular berkepala dua (hasutan).
Bisa dibayangkan kerjaan Tasikmalaya yang mempunyai dua jenis putik yang masing-masing mempunyai kesaktiannya dan konon kalau disatukan akan menjadi Bunga Nagari (Anak Bangsa Terpelajar ) yang mempunyai kekuatan dahsyat yang akan mampu mewarnai cahaya bumi ,dan tahan dari hembusan hawa panas (kontaminasi bejad moral) serta hembusan angin beliung (kondisi tak menentu) serta mampu bertahan dari gangguan roh jahat (penyelewengan) mampu mengeluarkan aroma khas bunga nagari (pintar dan taqwa) tidak saja di Kerajaan Tasikmalaya, bahkan akan sampai ke kerajaan besar (Indonesia).
Konon, berkat bimbingan para kesatria dan para begawan, tidak hanya memberi pupuk (kurikulum) akan tetapi zat-zat yang terkandung didalam tanah serta suhu udara yang tetap (suasana lingkungan) harus tetap dipertahankan. Adapun para kesatria dan begawan harus terus melatih tenaga dalam (kemampuan berfikir dan berprilaku) dan mengasah terus jurus (ilmu pengetahuan) serta kekebalan tubuh (gila kerja) dan melatih tubuh supaya lentur (tidak sok pimpinan), oleh karena itu kedua buah putik tersebut tidak bisa dipetik hanya dengan sosok kesatria dan begawan yang kesarung (ujug-ujug) saja.
Alkisah, ketika putik bunga sakti (mahasiswa) dari beberapa kerajaan (kabupaten/kota/profinsi) mampu menggegerkan kerajaan besar (Indonesia) dan mampu membuat raja besar tilem (lengser), betapa besar energi yang terpancar dan mampu mengubah warna cahaya bumi (peta politik, ekonomi, pendidikan, termasuk perilaku). Bunga nagari bisa mekar di kerajaaan Tasikmalaya, berapa banyak putik- putik yang ada lebih dari cukup untuk memberi cahaya (penerangan), kemolekan (teladan) kepada rakyat kerajaan.
Menurut primbon (catatan) putik bunga sakti yang ada cukup banyak jumlahnya, belum lagi akan tumbuh putik-putik yang lain dikarenakan tanah dan suhu udara yang cocok untuk pertumbuhannya begitupun putik bunga abadi. Raja kecil (Bupati/Walikota) kesatria dan begawan harus sudah siap denga keris pusaka (program jangka panjang) untuk memelihara pertumbuhan dan mekarnya putik-putik tersebut. Keris pusaka harus dijaga (diperhatikan) supaya kesaktian (pendidikan) lebih terpancar dan mampu memberikan aroma yang harum (suasana terpelajar) pada rakyat kerajaan, oleh karena itu raja kecil dibantu dengan kesatria dan begawan serta yang lain memperhatikan beberapa petunjuk ini.
SATU, diciptakan agar terjadi nitisjiwo (asimilasi program pembelajaran) sehingga tercipta kesaktian (pendidikan) yang mumpuni (terpadu) antara kedua putik sehingga lahir Bunga nagari yang utama
DUA, keris pusaka (program jangka panjang) harus diarahkan pada tujuh arah mata angin (penyebara lokasi) tidak tertumpu pada pusat bumi (ditengah kota) saja. Sehingga hal ini akan membawa pusaran air (penyebaran/lingkaran budaya) yang mengalir pada hamparan tanah ( masyarakat) akan meningkatkan tingkat kesuburannya (kesejahteraan), akan bertambah humusnya (ilmunya) akan memberi manfaat dan ikut membesarkan serta memelihara putik bunga sakti dan putik bunga abadi tumbuh dengan baik diatas tanahnya (masyarakat).
Mudah-mudahan sang kuasa memberi kekuatan pada raja, para kesatria dan para begawan mampu melahirkan sejarah (proses) nitis jiwo (asimilasi pembelajaran terpadu) antara kedua putik yang banyak tumbuh di kerajaan ini, dengan demikian tidak akan lahir kesatri-kesatria dan begawan begawan masa datang yang kesarung ( ujug-ujug / tidak jelas) sekaligus tercipta hamparan tanah subur (masyarakat terpelajar) .
.....Sang raja ingin menjadikan kerajaan yang penuh dengan kesatria yang beriman dan bertaqwa yang sebenar-benarnya.

Aten Warus

Tulisan ini pernah dimuat di SK Priangan (Rabu-Jum'at, 20-22 Pebruari 2002 )

1 komentar: